<img src="https://certify.alexametrics.com/atrk.gif?account=zT0Lu1hNdI20fn" style="display:none" height="1" width="1" alt="" />
Daftar / Login

PRESS RELEASE

Phonetic Kembali Gaungkan Karya Terbaru Mereka Berjudul “ALIEN”

1 month ago  •  88 Melihat  •  1 Menyukai  •  0 Komentar  •  0 Kuis  •  0 Bagikan

Kecurigaan sudah sepatutnya kita sematkan pada Phonetic – unit pop-rock Bandung beranggotakan Ario Danan (vocal + guitar + synth), Misyel ‘Icey’ Evelyn (bass + synth), Amen Holden (guitar + synth), & Arya Ditiar (drum + sequencer). Betapa tidak, konsep musik pada single “ALIEN”, seakan memperkuat validasi transisi zaman, bahwa kita sedang hidup di era “new-pop” – era di mana sesuatu dengan label ‘pop’, kini tak lagi ditentukan oleh hal yang sebatas famous, mellow, atau sedang tren; sebab ‘pop hari ini’ ditentukan oleh daya atraktif dan magnitude powers milik karya itu sendiri.

Spirit “new-pop” tampaknya sedang Phonetic gaungkan lewat karya terbarunya ini. Single “ALIEN” terdengar punya gaya dan warna berbeda, ketimbang lima rilisan Phonetic sebelumnya. Ini menjadi isyarat musikal dari mereka, bahwa: jangan-jangan (lagi), identitas asli sebuah band bisa kita lihat ketika mereka ‘mengganti busana’ mereka. Apakah kelak, penyebab mereka masih bisa dikenali sebagai Phonetic dikarenakan faktor busana yang mereka kenakan, atau justru masih dikenali karena wujud ‘tubuh asli’ mereka sendiri. Sebuah anekdot menarik, bukan?

Bagi Phonetic, warna / genre / stye dalam bermusik, bisa disikapi layaknya elemen fashion, busana, ataupun aksesoris. Artinya, akan banyak kondisi yang menuntut dan menuntun mereka untuk bergonta-ganti busana – sebagaimana urusan manusia dengan wardrobe-nya.

Dan ya, kita harusnya curiga, bahwa jangan-jangan, kita telah tiba di suatu masa, di mana meanings dari suatu nama band, ternyata sudah bisa membentuk nama genre musik itu sendiri. Jangan-jangan, empat manusia musikal ini tak hanya sedang memperkenalkan diksi Phonetic sebagai suatu nama grup musik – melainkan sedang mengkampanyekan Phonetic sebagai genre dan produk musik itu sendiri.

Meski kental akan kesan “mild goes wild”, single “ALIEN” (yang punya perbedaan ‘busana’ ketimbang lagu-lagu sebelumnya) toh ternyata tetap terlahir dari motherboard yang sama. Rasa dan warna yang berbeda, tidak berarti menandakan “ALIEN” diciptakan Phonetic dari konstruksi dan arsitektur yang berbeda pula. Aneka licks, fills, hooks, dan riffs pada “ALIEN”, tetap Phonetic kemas sedemikian rupa agar tetap catchy – masih easy listening, terutama bagi kuping-kuping penyuka menu ‘pedas’.

Momentum perilisan “ALIEN” ibarat sesi demo memasak dari Phonetic. Momen unjuk rasa, bahwa mereka punya kemampuan yang sama-sama mumpuni dalam membuat aneka hidangan – baik itu makanan/minuman manis, asin, atau pedas. Sebab Phonetic harus respect terhadap potensi terbesar mereka sendiri di masa depan musik: sebagai ‘koki’ multi-menu – yang artinya, sebagai band multi- genre.

Jika pada lima karya sebelumnya, Phonetic tampak nyaman berilustrasi dengan musical vibes yang fluorescent, maka pada “ALIEN”, Phonetic menunjukkan kemampuan mereka ‘melukis’ dengan alat gambar yang berbeda. Bisa diibaratkan, ‘stabilo’ yang biasa Phonetic gunakan, kini sejenak diganti dengan kaleng-kaleng ‘pilox’ untuk membangun nuansa musik industrial-urban, ketimbang electro pop-rock.

“ALIEN”, single berdurasi 2 menit 26 detik ini, justru menjadi bentuk multi- polarisasi yang baik bagi nasib DNA Phonetic itu sendiri. Apalagi bila menilik trivia bahwa keempat personil Phonetic memang sempat kerasukan aneka mantra musik rock sejak kecil (juga pengalaman main band di masa lampau). Dengan kata lain, komposisi “ALIEN” tidak hanya sebatas eksperimen bermusik, namun juga sebentuk tamasya bagi setiap sisi lain personilnya.

Bahkan, jika kita sepakat, bahwa musik rock masih jadi akar utama bagi banyaknya evolusi dan metamorfosis musik, maka “ALIEN” justru merupakan wujud betapa Phonetic sedang ‘membumi’ sejenak – titip salam sujud kepada dimensi musik yang sudah berjasa besar dalam membentuk fondasi dan akar musikalitas Phonetic.

Melalui “ALIEN”, Phonetic hanya senang mengeksplorasi aneka komponen di atas papan permainan. Mereka sadar betul, bahwa potensi musikal Phonetic bisa tumbuh dengan spontan dan alami – senatural perkembangan sifat-sifat musik itu sendiri. Terlebih lagi, Phonetic merupakan band yang sejak awal lahir, sudah berbekal dua jenis genetik yang sama-sama dominan, yakni: grooves dan electronical. Maka jangan heran, jika mutasi DNA pada Phonetic akan selalu menjadi proses yang lumrah – atau bahkan menyenangkan.

Kesenangan ini terlihat dari cara gitar dan synth yang sama-sama berupaya menerjemahkan konteks pada lirik single ini. Secara narasi, “ALIEN” mengisahkan rasa resah atas banyaknya tren sosial yang malah memancing banyak manusia agar serba-seragam dalam mengisi dan menjalani hidup dan kehidupan mereka. Rasa resah ini tumpah ruah menjadi nada dan melodi yang memenuhi lagu “ALIEN”.

Gaya mixing & mastering-nya pun membawa kesegaran lain. Jika pada lima lagu sebelumnya, produksi Phonetic tampak mengedepankan gelombang low sebagai cara menekan beat agar terdengar bold, maka untuk edisi “ALIEN” mereka lebih mengolah frekuensi berjenis mid, untuk membuat efek distorsi gitar lebih menyala; termasuk efek overdrive pada vokal – guna membuat serpihan grunge punya tempat khusus pada “ALIEN” – plus adanya efek fuzzy pada gitar bass guna mempertebal nuansa industrial-core dalam lagu ini.

Pada akhirnya, “ALIEN” terdengar sebagai kreasi anyar dari empat sosok mad-scientists muda – yang dengan asyik dan girangnya – menyalahgunakan laboratorium kimia jadi layaknya garasi private showcase. “ALIEN” jadi taman bermain untuk bersenyawanya ‘liar’ dan ‘struktural’; sehingga lahirlah eksperimentasi terbaru Phonetic; tanpa mengubah fakta bahwa mereka tetap menjaga standar estetik juga tertib musikalitas.

Dari sini bisa terlihat, betapa jangan-jangan (lagi), Phonetic belum sepenuhnya sadar, bahwa DNA asli mereka lebih dari sebatas groove dan electronical saja. Aneka varian latar musik milik tiap personilnya, tampaknya siap menjadi manuskrip menarik guna memperkaya gagasan karya Phonetic di masa mendatang.

Akhir kata, jika kita penasaran apa yang terjadi saat The 1975 terdampar ke era cyberpunk, maka lagu “ALIEN” ini punya ilustrasi tersebut. And hell yes, like Blink- 182 said: “the alien exists” – and Phonetic band acknowledges it pretty well.

Tulisan ini dibuat oleh tim PEWEFEED.COM dari berbagai sumber
Menyukai
(+1 Poin)
Komentar
(+3 Poin)
Kuis
(+20 Poin)

Paling Populer di lagu

lagu